Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Thursday, June 3, 2021

, , , , , ,

Pengalaman Menyiapkan Bayi Sebelum Operasi

Setelah mengalami peristiwa yang life-changing, yaitu operasi anak saya tahun kemarin, di sini saya mau berbagi beberapa persiapan yang perlu dilakukan oleh orangtua atau pendamping anak di rumah sakit. 

Baca juga: Kilas Balik: Baru Berumur Dua Bulan, Anakku Harus Operasi Bedah Urachus

Kita sama-sama berharap bahwa tidak ada orangtua yang deserved mengalami peristiwa anak sakit, kemudian berakhir di meja bedah untuk menggapai kesembuhan. Namun adakalanya beberapa orangtua diberikan kesempatan istimewa untuk melaluinya. Sebagian mereka bahkan tidak mempersiapkan diri bagaimana menghadapi saat-saat di mana anaknya harus dioperasi. Semua berasa clue-less, dokter dan perawat pun hanya sebatas menjelaskan bagaimana proses operasi, risiko, dan perawatan lanjutan. Tapi pertanyaan yang bersemayam di kepala orangtua seperti:

Bagaimana menyiapkan fisik & psikis anak?

Barang apa saja yang disiapkan sebelum ke rumah sakit?

Bagaimana mengatur puasa anak, kan dia nggak ngerti soal puasa?

Yang paling penting, bagaimana menata hati kita sebagai orangtua saat harus merelakan anak di tangan dokter?



........

Baiklah, pertama-tama, jika kamu adalah salah satu orangtua istimewa itu, peluk jauh dari sini Pak, Bu. Kalian adalah orangtua hebat yang terpilih untuk melewati semua ini. Apapun tindakan medis yang akan dilakukan pada anakmu, yakinilah bahwa itu adalah yang terbaik untuk mengusahakan kesembuhan dan kualitas hidup yang lebih baik untuk si kecil kelak. Tidak banyak orangtua yang berani mengambil keputusan hebat ini. Sebagian di antaranya bahkan tidak mengetahui diagnosis tepatnya dan memilih menerima apa adanya. Mungkin karena jauhnya jangkauan medis, atau tiadanya biaya. Di titik inilah, kamu, Bapak dan Ibu hebat, patut berbangga dan merayakan keputusan berharga yang akan berpengaruh pada masa depan si anak.

.......

Di sini saya mau berbagi pengalaman saat menyiapkan operasi untuk bayi saya yang waktu itu berusia dua bulan. Untuk yang belum membaca, anak saya didiagnosis urachus patent dan harus melalui serangkaian operasi medis untuk menutup saluran tersebut. Cerita lengkapnya ada di sini. Dari hasil pencarian dan ngide sana sini, berikut adalah proses persiapan yang saya lakukan:


1. Menyiapkan fisik dan psikis bayi.


Waktu operasi, anak saya baru dua bulan. Dia belum mengerti tentang prosedur medis. Dia juga belum mengenal rasa takut dan khawatir khasnya orang mau dioperasi. Ini merupakan poin unggul saat akan mengoperasi bayi. Ibarat kata, saat masuk rumah sakit, si bayi aja masih bisa ketawa-tawa senang. Namun untuk fisik, inilah PR sebenarnya. 

Bayi dengan ASI eksklusif tetap disarankan untuk memberikan ASI sesering mungkin. Usahakan si Ibu tetap memakan makanan bergizi agar ASInya berkualitas. Proses operasi membutuhkan tenaga dan energi bayi yang besar, apalagi tubuh akan 'dilukai' dan setelahnya harus melalui proses penyembuhan. Makanan tinggi protein sangat disarankan supaya penyembuhan luka semakin cepat.


2. Apa saja yang dibawa ke rumah sakit.


Nah ini nih, bagian yang sering membuat para orangtua clueless. Terutama yang sama sekali belum pernah berpengalaman mengantar orang ke rumah sakit. Selain bawa baju ganti untuk pasien & penunggu, sebenarnya perlu bawa apa saja sih ke rumah sakit?

  • Selimut & kaos kaki tebal
Ini penting banget untuk menghangatkan bayi pasca operasi. Pasalnya, ruangan operasi itu biasanya superr dingiiin di bawah 20 derajat Celcius. Apalagi si bayi di bawah pengaruh bius sehingga pasti kedinginan banget. Nah, saat selesai operasi jangan lupa bawain selimut dan kaos kaki tebal untuk menghangatkan tubuhnya.
  • Pompa ASI
Sebelum operasi, umumnya bayi akan puasa dulu selama kurang lebih 5-6 jam. Selama itu, payudara akan penuh sehingga perlu membawa pompa ASI supaya tidak bengkak. Ini terutama untuk bayi ASI exclusive. 
  • Teether/empeng
Saat si bayi ingin menyusu tapi tidak boleh karena berpuasa, di situlah teether dan empeng beraksi. Ini berguna agar mulut si bayi tetap sibuk meski kita tidak memberinya susu.
  • Dot bayi
Saya membawa ini untuk memberikan susu yang cukup di waktu 'sahur'. Jadi misal puasa dimulai pukul 02.00, maka di jam segitu saya bangunkan si bayi untuk menyusu sekaligus ngedot dari gelas. Bayi kan nggak ngerti kapan mulai sahur, kapan mulai menyusu. Maka dari itu penting untuk memberikannya suplay yang cukup untuk berpuasa selama 5-6 jam ke depan.

3. Mengatur puasa anak


Menahan lapar dan haus selama 6-8 jam untuk bayi adalah kegiatan yang berat sekali. Bayangkan, mereka saja wajarnya akan meminta nyusu setiap 2 jam. Lha ini diminta berpuasa selama 6 jam sebelum tindakan. Meski begitu, prosedur ini tetap harus dilakukan karena perut yang terisi makanan akan membahayakan pasien apabila di bawah pengaruh obat bius. 

Trik saya adalah memberikan susu yang cukup saat dia 'sahur'. Kemudian ajak dia tidur supaya lupa kalau dia sedang berpuasa. Meminta dokter untuk memajukan jadwal tindakan sepagi mungkin juga bisa menjadi pilihan. Supaya saat puasa itu, si bayi sedang ada di jam tidur sehingga tidak terlalu rewel.

Selama berpuasa itu, si ibu bisa sambil memompa ASInya supaya tidak terbuang. Seusai operasi, si bayi tidak serta merta bisa langsung disusuin, tetapi menunggu gerak usus aktif (ini akan diperiksa oleh dokter). Baru setelah usus aktif dari pengaruh bius, si bayi bisa segera disusuin.

Sebagian tindakan membutuhkan penanganan NICU, semisal untuk operasi berat seperti open heart surgery. Untuk hal ini, diskusikan dengan dokter mengenai pemberian susu untuk bayi. Apakah melalui selang atau sejenisnya.


4. Ekspektasi kita di rumah sakit



Saat dokter sudah menyarankan untuk operasi, biasanya kita akan diberi antrean tanggal tindakan. Semakin cepat semakin baik. Namun ada pula yang harus menunggu hingga tubuh si anak siap, misal pada prosedur open heart surgery -- bisa jadi menunggu si anak mencapai berat badan tertentu.

Beberapa hari sebelum tindakan, akan ada proses cek lab dulu untuk melihat jumlah HB dan beberapa prosedur lain. Jika HB masih kurang, anak akan diberi suplementasi zat besi agar HB mencukupi, atau tim dokter akan menyiapkan donor darah.

Kemudian H-1 jadwal, kita dipersilakan untuk mendaftarkan anak untuk rawat inap. Pastikan si anak dalam kondisi sehat, tidak sakit ataupun demam. Ingat, prosedur operasi membutuhkan kondisi tubuh sesehat mungkin.

Malam sebelum tindakan, si anak akan diminta berpuasa 6 jam. Kalau masih ASI, bisa 4 jam tergantung saran dokter anestesi. Saat itu juga si anak akan diberikan IV (infus) untuk memudahkan pemasukan obat dan/atau anestesi. Si anak akan menangis kesakitan, tapi kuatkan hatimu ya Bunda. Ini demi kebaikan dia kok. Saat jelang operasi, anak akan diganti bajunya dengan baju steril dan masuk ke ruang tindakan.

Orang tua dan keluarga akan menunggu di luar dan akan dipanggil saat tindakan sudah selesai. Kemudian saat pemulihan dan 'pembangunan' si anak dari pengaruh obat bius, orangtua akan diminta untuk mendampingi anak. Menemaninya, menenangkannya dari trauma pasca operasi. Mungkin anakmu akan dipasang kateter dan oksigen, tetapi ini nggak apa-apa. Saat inilah si anak perlu diselimuti tebal-tebal karena ruangan pemulihan sangat dingin. 

Dokter akan memantau perkembangan vital anak pasca operasi, termasuk kapan dibolehkannya makan/minum. Jadi nggak sembarang langsung kasih ASI ya Bun, tetap harus menunggu ususnya aktif dulu. 

Kemudian saat pemulihan, anak akan tinggal beberapa hari di rumah sakit hingga dibolehkan pulang. Untuk kasus anak saya, kami menginap 2 malam. Sebelum pulang, kita akan diberikan edukasi tentang pemberian obat, antibiotik, sekaligus perawatan luka. Seminggu setelah operasi, akan ada kontrol lagi untuk melihat perkembangan dan after effect. Apabila luka sudah kering dan tidak ada komplikasi, maka operasi dianggap telah berhasil.

5. Menata hati kita sebagai orangtua saat harus merelakan anak di tangan dokter?



Kamu pasti tahu Cristiano Ronaldo kan?
Sudah baca tentang masa kecilnya?

Ronaldo terlahir dari keluarga menengah ke bawah. Masa kecilnya tidak bisa disebut berkecukupan. Bahkan pertumbuhan tubuh Ronaldo sempat ada keterlambatan. Saat pra remaja, tinggi badannya kurang sesuai dengan perkembangan anak normal. Tetapi orangtuanya TANGGAP. Mereka mencium bakat sepakbola Ronaldo sejak dini, dan MENGUSAHAKAN Ronaldo untuk mendapatkan medikasi agar bisa mengejar pertumbuhannya. Ronaldo remaja harus mengonsumsi obat-obatan dan hormon supaya tubuhnya tumbuh normal seperti anak-anak lain. Dan akhirnya, dia menjadi Ronaldo yang kita kenal sekarang.

Apa jadinya kalau orangtua Ronaldo tidak tanggap dan masa bodo? Belum tentu anaknya akan menjadi pesebakbola hebat seperti Ronaldo. Untuk itulah, Dear Parents, yang mungkin anakny istimewa dan butuh penanganan khusus atau punya penyakit tertentu, nggak perlu berkecil hati. Berusahalah memantapkan hati dan pikiran bahwa apa yang kamu lakukan adalah yang terbaik untuk anak. 

Tetap semangat ya, Bapak, Ibu.

@andhikalady

Continue reading Pengalaman Menyiapkan Bayi Sebelum Operasi

Thursday, December 17, 2020

, ,

Pengalaman Pasang IUD, Seram Nggak Sih?

Memilih cara KB adalah hal yang gampang-gampang susah buat saya. Tapi (kayaknya) lebih susah lagi menanggung punya anak banyak dengan jarak dekat-dekat. Beuh. Untuk itulah saya memutuskan langsung ber-KB setelah nifas usai. KB yang saya pilih adalah IUD (intra uterine device) dan sejauh ini belum menyesal memilih ini.

Kenapa memilih IUD?

Pertama-tama, saya nggak disiplin meminum pil setiap hari. Kedua, lebih baik mengulangi trip kontrol IUD setiap enam bulan ketimbang disuntik setiap tiga bulan. Ketiga, media lain tidak menarik. Sehingga saya mantap dengan IUD.

IUD sendiri setahu saya ada dua jenis, tipe plus hormon dan tanpa hormon. Saya memakai yang non hormon, kabarnya lebih aman untuk yang menyusui. Saya memang menghindari segala jenis KB yang mengandung hormon seperti pil, suntik, implan, ataupun IUD yang berhormon dengan harapan untuk menghindari pengaruh pada ASI.

IUD dan alat insersinya.


Proses pemasangan


Sebelum dilakukan pemasangan IUD, dokter/bidan biasanya akan memberi pengarahan singkat tentang bagaimana alat ini bekerja, berapa lama harus kontrol kembali, sampai masa waktu pakai IUD. Selain itu juga dijelaskan proses pemasangan dan efek sampingnya. Waktu itu saya dijelaskan bahwa dengan pemakaian IUD dapat menyebabkan haid berlangsung lebih lama (yang mana saya belum tahu karena sampai sekarang belum haid juga).

Setelah mantap, saya dipersilakan untuk tiduran di alat yang dinamakan stirrup, mengangkangkan kaki seperti posisi melahirkan, kemudian petugas kesehatan akan melancarkan aksinya di 'bawah' sana. Mereka menggunakan alat yang dinamakan spekulum untuk membuka vagina agar IUD mudah dimasukkan ke dalam rahim. Supaya mengurangi rasa nyeri, bisa juga menggunakan bantuan gel khusus.

Spekulum untuk membuka vagina


Gimana rasanya? Ya tetap nyeri, nggak nyaman, dan berontak. Secara alami memang bagian 'bawah' dirancang untuk menolak benda yang masuk. Namun demi kesuksesan implantasi IUD, saya tahan-tahan sebentar. Setelah 10 menit penuh perjuangan, akhirnya masuk juga benda berwujud huruf T itu. 

Banyak wanita mengurungkan pakai IUD karena takut sakit, nyeri, dan segala macam. Tapi buat yang sudah pernah melahirkan, memasang IUD nggak ada apa-apanya kok. Memang ada nyeri dikit, tetapi hanya sementara. Masih lebih nyeri membayangkan hamil lagi saat anakmu baru enam bulan kok.

Nah, begitu selesai pemasangan, rasanya seperti tidak pakai apa-apa. Hanya saja dalam waktu beberapa jam setelah pemakaian, muncul bercak darah seperti menstruasi. Keluarnya juga selama beberapa hari seperti menstruasi sehingga saya perlu memakai pembalut.

Saya diminta kontrol dua minggu setelahnya. Kemudian kontrol lagi sebulan, tiga bulan, dan setelah itu setiap enam bulan sekali. Sejauh IUD tidak bermasalah, kontrol bisa dilakukan setahun sekali. Kebanyakan bocor IUD adalah karena kontrol yang terlambat. Saya sih nggak berharap itu terjadi, pinginnya aman-aman saja tidak terjadi pembuahan saat memakai KB.

Lalu gimana kontrol IUD di saat pandemi seperti ini?


Alternatif saya adalah mencari klinik yang bukan di rumah sakit untuk memeriksa IUD. Sebelum memutuskan menggunakan KB jenis apapun, ada baiknya kamu melakukan riset terlebih dahulu. Bisa melalui membaca artikel online misalnya di Halodoc, atau tanya teman yang sudah melakukannya. 

Buat saya, segala tindakan keputusan kesehatan untuk diri sendiri dan keluarga sebaiknya sudah diputuskan matang-matang. Memeriksakan anak sakit, memasang KB, kontrol kesehatan, hingga vaksin corona sebaiknya sudah di-googling-kan dulu sebelum ke ahlinya. 

Kalau kamu sendiri, lebih nyaman pakai KB apa?

@andhikalady

Continue reading Pengalaman Pasang IUD, Seram Nggak Sih?

Tuesday, November 24, 2020

, , , , , , ,

Rekomendasi Dokter Spesialis Anak & Tenaga Medis Anak di Yogyakarta

Saat menjadi orangtua, saya rasa semua orang akan concern mengenai jasa medis dan dokter untuk si kecil. Meski anak tidak sakit, meski nggak kenapa-kenapa, pun kita akan sering bertemu dengan mereka. Entah untuk imunisasi atau kontrol pertumbuhan. Bukankah kita semua ingin anaknya tumbuh dengan sehat dan optimal?

Saya beberapa kali ketemu dengan DSA (dokter spesialis anak), dokter umum, dan aneka jasa medis yang ada di Yogyakarta. Alasan untuk menemui mereka beragam. Ada yang disebabkan anak alergi, benjolan di pusar, BB nggak naik, dan serangkaian 'bonus' yang datang bersamaan dengan buntelan lucu imoet nan menggemaskan ini.


Little L



1. dr. Nini Rahmani Aziz, Sp.A -- Lokasi Praktik di RSKIA Sadewa Babarsari


Dokter Nini adalah dokter anak pertama yang menangani Little L paska persalinan. Saya sendiri kurang paham apa yang dilakukan beliau sesaat setelah bayi lahir, karena saya masih fokus beristirahat setelah melahirkan. Namun setelah mencari tahu, dokter anak bertugas untuk mencatat dan memastikan si bayi dalam kondisi optimal dan sehat setelah lahir. Apabila terjadi komplikasi, dokter anak akan sigap menolong si bayi agar tetap terkondisikan.

Saya menemui beliau 2 kali. Pertama di saat kontrol sebelum bayi dipulangkan untuk memantau kondisi bayi apakah sudah layak pulang atau belum. Kedua, saat kontrol Baby L seminggu setelah ia lahir, untuk memantau kenaikan BB pertama, poop, dan kondisi umum bayi. Sekilas kesan tentang dokter Nini adalah beliau lugas, langsung to the point, dan menjelaskan tanpa diminta. Kurangnya satu, antreannya panjang sekali, mungkin karena di RSKIA Sadewa (tempat praktik beliau), dikenal sebagai RS laris dan terjangkau di kantong. Saya sampai kasihan dengan bayi saya harus menunggu terlalu lama dan berdesakan dengan pasien lainnya. Kapok dengan antreannya, saya putuskan cukup sekali saja kontrol ke Dokter Nini waktu itu.

Mungkin selain di RSKIA Sadewa beliau juga membuka praktik di rumah pribadinya, hanya saja saya belum mencari tahu lebih lanjut.


2. dr. Anita Tri Kusuma -- Praktik di Klinik Bangun Husada Seturan


Dokter Anita adalah dokter umum di klinik faskes I BPJS kami. Saya sekeluarga kalau ada keluhan kesehatan yang dari ringan sampai agak berat biasanya langsung mendatangi klinik ini. Orangnya komunikatif, friendly, dan staffnya juga ramah-ramah. Meski dokter umum, beliau cukup piawai untuk menangani kasus-kasus keluhan bayi. Misalnya saat L demam atau muntah, bisa tertangani dengan baik. Begitu pula saat L pernah mengidap dermatitis atopik, diberikan salep dan obat anti alergi langsung sembuh.

Keunggulan beliau menurut saya adalah beliau gemar memberikan tips tumbuh kembang anak tanpa diminta. Misal tips simulasi tengkurap, dan berbagai perawatan bayi lainnya. Kelebihan lain adalah beliau tidak mudah meresepkan obat manakala tidak perlu amat. Misal waktu itu baby L sempat diare, kami tidak diresepkan obat diare, melainkan dibei vitamin untuk usus dan parasetamol untuk meredakan demamnya.


3. Bidan Mugi Rahayu, AmdKeb, SFil, MPH -- Purwomartani


Semenjak pandemi, saya dan L sebisa mungkin menghindari datang ke rumah sakit atau pusat kesehatan kalau nggak perlu-perlu banget. Namun kita berusaha agar L tetap mendapatkan imunisasi sesuai haknya. Maka dari itu, atas rekomendasi teman, saya mencoba imunisasi di tempat bidan Mugi (persalinan Maryam). Lokasinya di daerah Purwomartani - Kalasan. Agak nyelempit memang, tetapi dari pencarian google map menunjukkan lokasi cukup akurat dan mudah dicari.

Kesan pertama saat memasuki klinik bidan Mugi adalah teduh dan Islami. Lamat terdengar alunan suara murattal di lokasi. Staffnya juga ramah-ramah. Keunggulannya, setiap ada jadwal imunisasi, setiap anak akan mendapat jamnya sendiri-sendiri untuk menghindari kerumunan. Dua kali saya mengimunisasi L di sana, nggak antre sama sekali dan sudah pas dengan jamnya. Selain itu, tarif imunisasi dasar juga cukup terjangkau. Kemungkinan L akan terus imunisasi di sini.


4. dr. Lhora Arie Sandy, Sp. BA -- Praktik di Rumah Sakit Hermina


Saat L berumur 2 bulan, pusarnya tidak kunjung kering dan timbul benjolan sekaligus bau anyir yang tak sembuh-sembuh. Setelah diperiksa, ternyata bayi saya mengidap kelainan bawaan lahir urachus (saluran kemih bocor ke pusar) sehingga perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaikinya. Dokter yang menangani prosedur ini adalah dokter Lhora spesialis bedah anak di rumah sakit Hermina Yogyakarta. Saya sama sekali tidak ada pengalaman yang berkaitan dengan rawat inap dan operasi, mendengar kata 'surgery' aja udah ngeri duluan. Namun qodarullah, saya harus menghadapi situasi di mana anak saya, bayi saya yang masih merah berumur 2 bulan harus menjalani pembedahan.

Saya berharap kamu dan anak kamu tidak perlu bertemu dengan dokter bedah anak di manapun berada. Namun apabila dibutuhkan -- misalnya ingin menyunat anak, dokter Lhora bisa dipertimbangkan. Beliau komunikatif dan sayang anak. Perawatan paska operasi juga tetap dipantau sampai lukanya sembuh benar. Sekarang keluhan pusar L alhamdulillah sudah tidak ada lagi.


5. dr. Neti Nurani, M. Kes, Sp. A (K) -- Praktik di RS Bhakti Ibu


Saat L berusia 10 bulanan, ia mengidap gatal-gatal di area lengan yang ternyata adalah dermatitis atopik -- sejenis alergi. Saking gatalnya, L bisa menggaruk sampai lecet dan berdarah. Kemudian saya bawa ke dokter Neti, niatnya biar bisa sekalian konsultasi gizi karena berat L tidak nambah-nambah. Namun begitu sampai sana, beliau hanya meresepkan pengobatan untuk dermatitis atopiknya, dan menolak untuk dimintai konsul gizi. :(. Mungkin menurut beliau biar diselesaikan dulu penyakitnya, baru pembenahan gizi. Atau bisa juga karena saat saya kontrol ke sana, kebetulan mendekati jam enam sore di saat magrib. Tahu sendiri kan, di jam-jam tersebut adalah saat kemrungsung-nya manusia.

Alhasil saya cuma membawa pulang resep saja, tanpa konsultasi gizi seperti yang diharapkan. Padahal tarifnya juga tidak murah (tetap ada charge konsul gizi). Sekali berobat ke sana, cukup menjadi alasan untuk tidak datang kembali.


6. dr. Endy Paryanto Prawirohartono, MPH, Sp.A(K) -- Praktik di Apotik Celeban


Masih dengan kasus yang sama, yaitu BB L stuck selama 5 bulan, akhirnya saya putuskan untuk membawanya ke DSA subspesialis gizi. Di Jogja ada dua dokter subspesialis ini, yaitu dokter Neti yang sudah saya bahas di atas, dan dokter Endy. Beliau praktik di RS Sardjito dan apotek miliknya di Celeban. 

Ceritanya, L susaaaah banget naik BBnya. Saya sempat khawatir ada penyakit tersembunyi yang bikin dia weight faltering. Dulu saat dia masih ASIX, badannya gemuk ginuk-ginuk, bahkan pernah naik 2kg dalam sebulan. Lha setelah MPASI kok susah naiknya. Usut punya usut setelah konsultasi ke dokter Endy, penyebabnya karena penghidangan makanannya kurang minyak tambahan dan kurang suplementasi zat besi. Demikian. 

Saya lakukan penjadwalan makan dan rutin memberi suplemen zat besi, alhamdulillah ada hasilnya. Bisa naik 2 ons selama sebulan. Saya udah seneng banget nih meski kurang dari target yaitu 5 ons sebulan. Dokter Endy ini termasuk sudah senior dan sabar saat diminta konsultasi. So far, dokter Endy yang menurut saya paling cocok kalau untuk masalah pergizian dan pemberian makan bayi.

Nah itulah beberapa daftar dokter DSA dan tenaga medis yang menangani baby L. Semoga kamu yang sedang mencari bantuan tenaga medis bisa terbantu dengan artikel ini.


@andhikalady
Menjadi Ibu terasa lebih mudah.



Notes:
- Mohon jangan berusaha mencari atau menghubungi saya via WA kalau sekadar tanya "Di mana lokasinya", "no telepon berapa", "praktiknya jam berapa", dll. Nomor WA saya adalah untuk keperluan bisnis & toko, bukan untuk konsultasi apapun. Saya bukan konsultan.
- Kalau punya pertanyaan di atas, silakan manfaatkan teknologi bernama Google dan Google map.

Continue reading Rekomendasi Dokter Spesialis Anak & Tenaga Medis Anak di Yogyakarta

Saturday, September 26, 2020

, , , , ,

Pengalaman Melahirkan Normal di RSKIA Sadewa - Yogyakarta

Meski hampir setahun berlalu, pengalaman melahirkan anak pertama saya masih teringat jelas di ingatan. Jangankan setahun, coba kamu tanya ibumu yang sudah melahirkan kamu puluhan tahun yang lalu, pasti juga masih ingat jelas proses melahirkan kamu. Kenapa bakalan terus ingat? Karena....

Giving birth is life changing itself

Di sini saya mau bercerita tentang proses kelahiran Linambar, putra pertama saya. 

Sedikit kilas balik, sebelumnya saya & suami melakukan program hamil di dr. Enny yang sudah saya tulis di sini. Begitu pula saya sempat menulis rencana dan persiapan persalinan. Di tulisan itu dijelaskan bahwa sebelum melahirkan, saya telah menyiapkan beberapa perencanaan sematang yang kami bisa supaya prosesnya lebih lancar dan mendekati harapan.


30 September 2019. Pertama kali merasakan gelombang cinta

Hari Senin pagi saya terbangun dengan sedikit mulas di perut bagian atas. Rasanya seperti mau mens tetapi lebih mild. Saya masih bisa menahan dan beraktifitas seperti biasa. Bahkan paginya saya sempat masak opor ayam buat suami. Berbekal info dari akun dan website edukatif seperti Bidankita, saya menunda dulu ke rumah sakit sebelum nyeri kontraksinya berlangsung lima menit sekali.

Oh iya, buatmu yang menyiapkan persalinan, penting sekali untuk belajar apa itu proses persalinan. Apa itu bukaan 1, bukaan 7, ketuban pecah, ketuban hijau, menghitung minggu kehamilan, istilah neonatus, dll. Jangan sampai di hari kamu melahirkan malah bingung sendiri karena nggak tahu apa-apa.

Menjelang siang, nyeri itu bukan makin berkurang tetapi makin bertambah. Kemudian saya menginstal aplikasi penghitung kontraksi dan mencatat setiap kontraksi yang timbul. Aplikasi ini pintar sekali, setiap kali kontraksi menjadi 5 menit sekali, ia segera mengeluarkan notifikasi untuk segera ke rumah sakit.



Nyeri itu tak kunjung hilang sepanjang hari, sampai malam. Namun saya masih bisa menahannya. Selain faktor interval kontraksi yang masih jarang, ditambah saya masih bisa menoleransi rasa sakitnya, diputuskan kami menunda ke rumah sakit terlebih dulu. Untuk jaga-jaga, kami sudah mempersiapkan koper persalinan dari jauh-jauh hari. Niatnya kalau sudah tak tertahankan, kami segera buru-buru ke rumah sakit.


1 Oktober 2019. Ke rumah sakit saat dini hari. Masih bukaan 1.


Tepat pukul 03.00 dini hari, rasa sakit kontraksi semakin tak tertahankan ditambah keluarnya flek darah. Akhirnya kami bersiap menuju rumah sakit pilihan kami, yaitu RSKIA Sadewa di Babarsari. Sebelumnya saya makan dulu (meski nggak doyan tapi dipaksakan supaya punya tenaga), dan dandan seadanya. 

Saat itu kontraksi sudah mulai sakit dan bikin ngos-ngosan lantaran disambi bernafas untuk mengurangi rasa sakit. Saya belajar teknik nafas itu dari senam hamil & Youtube. It's works! Setidaknya meskipun sambil menahan rasa sakitnya kontraksi, janin saya di dalam tidak akan kekurangan oksigen.

Sampai di RSKIA Sadewa, saya masuk IGD dan langsung dipersilakan berbaring untuk VT (vaginal toucher), atau periksa dalam untuk mengecek bukaan. Waktu itu saya ditangani oleh dokter pria, waduh rasanya campur aduk antara nggak nyaman, malu, sakit, risi, dan juga menahan rasa sakit kontraksi yang nggak kunjung usai (ya iyalah).

"Bu, ini baru bukaan satu. Agaknya masih lama. Sebaiknya Ibu pulang dulu saja. Nanti ke IGD lagi jam 7 pagi ya"

Whad?? Sudah kesakitan sehari semalam begini kok masih bukaan satu katanya? Kirain udah bukaan 6 atau 7 soalnya perasaan sudah sakit sekali.

Petugas IGD juga menjelaskan bahwa agar BPJS bisa berlaku, minimal saya harus sudah bukaan 2 untuk bisa mendapat kamar.

Akhirnya kami pulang dulu. Saya mencoba tidur sebisanya (tetapi nggak bisa). Dan menunggu pagi untuk ke RS lagi. Untungnya jarak rumah kami ke RS hanya 10 menit perjalanan.


1 Oktober 2020. Pukul 7 pagi. Rawat inap


Kami ke rumah sakit lagi untuk yang kedua kalinya. VT ulang, saya dinyatakan sudah bukaan 2. Alhamdulillah. Nahan sakit 4 jam nambah juga ini bukaan, meski baru bukaan 2. Kemudian saya diarahkan untuk rawat inap. Nah, kebetulan kamar ranap kelas I kosong, sehingga saya sementara mendapat ruangan kelas III yang seruangan berisi banyak pasien itu. Karena keluarga besar juga belum datang, saya sih nyaman-nyaman saja. Sambil menikmati kontraksi, saya mainan Gymball yang dibawa teman sekaligus fotografer persalinan, Amel

Tak lupa makan seadanya yang penting masuk. Ditunggu lama sampai sore, kontraksi masih adem ayem saja kelihatannya. Duh, si bayi belum ngajak keluar juga, padahal Mama udah ngerasa sakit biyanget.


1 Oktober 2020. Pukul 23.00. Masuk ruang tindakan

Betul juga kata orang, melahirkan itu butuh kesabaran Guys! Karena nggak semua wanita bejo merasakan sakit dalam hitungan jam lalu si bayi lahir. Ada juga yang kebagian rezeki harus menahan sakit berhari-hari sampai lemes dan bosan. Contohnya saya.

Kapan sih ini bayinya lahir?
Udah bosan!
Nggak doyan makan tapi dicekoki makan.
Bisa nggak sih keluar dari situasi ini?
Aku pengen HPan nyekrol sosmed tapi nggak bisa.

Awalnya sakit-sakit lucu seperti mens hari pertama, posisi sakit juga hanya di bagian perut atas. Kemudian sakitnya bergelombang menuju keseluruhan perut. Sakitnya itu berjeda, selama 30 detik sakit kontraksi, kemudian istirahat 5-7 menit. Lalu sakit lagi, lalu istirahat lagi. Begitu seterusnya sampai bayi lahir. Semakin lama dan semakin lebar bukaan, semakin kuat dan sensasi nyeri kontraksinya. Saya cuma bisa nafas dan zikir.

Untungnya saya punya tim support. Ada suami, orang tua, mertua, dan adik-adik pada datang. Tangan mereka bergantian saya remas sekuat tenaga. Ibu saya sampai kasian melihat saya kesakitan. Huhuhu.

Kalau ditotal sudah hampir dua hari saya merasakan kontraksi yang nggak masuk akal sakitnya. Akhirnya atas saran dokter, saya diberi infus augmentasi (induksi) untuk mempercepat bukaan dan langsung dibawa ke ruang tindakan. Benar juga, begitu obat induksi bereaksi, kontraksi saya semakin menjadi, semakin kuat, dan dorongan untuk mengejan semakin menggelora. Tapi oleh bidan, saya dilarang keras untuk mengejan sebelum bukaan lengkap. Bayangin sendiri deh, saat tubuhmu sudah mengejan dengan sendirinya, eh kita malah dilarang untuk mengejan. 


2 Oktober 2020. Bayiku lahir!


'Gelombang cinta' yang sudah 40 jam saya rasakan akan berakhir juga. Saya dinyatakan sudah bukaan lengkap dan sudah boleh mengejan. Berbekal ilmu dari kelas senam hamil yang sudah diadakan di RSKIA Sadewa pula, saya berhasil mengejan sebanyak 3x dan langsung keluar. Leganyaa!

Bayi saya nangis kencang, dan langsung tenang begitu inisiasi menyusui dini (IMD).

Sambil IMD, dokter Obgyn saya, dr. Ariesta membantu mengeluarkan plasenta sekaligus menjahit sisa episiotomi. Meski awalnya saya nggak pengen diepisiotomi, tetapi pada akhirnya tetap dibantu gunting oleh dokter mengingat bagian vagina saya kurang elastis. Takutnya bisa terjadi robekan yang lebih fatal.



Setelah IMD, bayi saya diangkut dan dibersihkan untuk diobservasi lanjutan. Sementara saya dipersilakan ke kamar dengan kursi roda. Meski sebetulnya disuruh istirahat, saya malah asyik ngobrol dengan keluarga dan teman-teman pasalnya oksitosin sedang banyak-banyaknya dan perasaan LEGA setelah berhasil melahirkan nggak ada yang bisa mengalahkan.

Setahun berlalu, anakku sekarang sudah besar dan sedang belajar rambatan (dan kotor-kotoran).



Nak lanang, nak lanang. Nak lanangku, Linam.


@andhikalady
Continue reading Pengalaman Melahirkan Normal di RSKIA Sadewa - Yogyakarta

Sunday, September 20, 2020

, , ,

Makanan Solid Pertama untuk Anak umur Satu Tahun

Persoalan gizi anak, buat saya bukanlah hal yang main-main dan bisa dilakukan sembarangan. Apalagi di saat fase emas pertumbuhan anak, yaitu di 1000 hari pertama kehidupan. Kalau dikalkulasikan hitungan tahun yaitu semenjak janin di dalam kandungan hingga bayi berusia 2 tahun. Sekitar 70% pertumbuhan organ terjadi pada masa golden ini. Sisanya bertahap hingga anak berusia 18 tahun. 

Karena sebagian besar pertumbuhan 'diborong' saat bayi hingga toddler, maka dari itulah pemberian gizi optimal sangatlah super duper-duper penting. Salah sedikit, bisa gagal tumbuh hingga stunting. Saya nggak mau anak saya lambat tumbuh apalagi lamban belajar. Untungnya sekarang lebih banyak ibu-ibu yang lebih aware terhadap gizi anak dibanding ibu-ibu generasi terdahulu.

Masih ingatkah dulu di zaman ibu-ibu kita yang bilang "anak jangan dikasih santan, nanti diare"; "bayi 3 bulan dikasih makan saja pakai pisang diulek biar kenyang"; dan "jangan dikasih minyak mentah atuh"? Padahal bayi 3 bulan diwajibkan hanya minum ASI saja. Kemudian santan dan minyak justru memiliki kandungan lemak yang baik untuk nutrisi otak dan menambah berat bayi. 

Umur satu tahun adalah saat ideal untuk masa transisi makanan bayi menuju makanan dewasa. Pasalnya gigi sudah mulai tumbuh dan selera bayi semakin beragam. Anak saya contohnya, dia sudah mulai bosan dengan aneka bubur-buburan. Alhasil saya kerapkali memasakkan makanan yang mirip dengan makanan orang dewasa dengan sedikit modifikasi. Apa saja contohnya? Yuk mari disimak.

Cake tinggi kalori




Saat BB anak stuck, maka makanan yang direkomendasikan adalah yang memiliki kalori tinggi. Semisal telur, santan dan aneka produk susu. Cake sederhana tinggi kalori ini saya buat dari bahan roti tawar, telur, keju, susu, mentega dan santan. Mix it up, kemudian dikukus. Jadi deh.


Pudding



Adakalanya bayi bosan makan buah-buahan segar. Solusi terbaiknya ya diolah saja jadi pudding. Bahannya mudah sekali, pakai agar plain, buah, santan, telur dan susu. Wow, kalorinya combo! Niscaya bayi jadi mudah makan dan makin suka buah-buahan. 


Nasi/jagung santan



Nasi santan ini juga tinggi kalori lho, untuk menambah BB anak lumayan ampuh. Cita rasanya mirip dengan nasi uduk atau nasi kuning yang biasa kita makan. Cuma, kalau untuk bayi teksturnya dibuat lebih lembik. Caranya mudah banget, tinggal rebus beras dengan air sampai setengah matang, lalu tambahkan santan dan bumbu sederhana (bawang putih, bawang merah, daun salam dan garam). Tunggu sampai matang dan sajikan bersama lauk pauk.


Mie Instan



Hah, mie instant untuk makanan bayi? Apa nggak salah, kan banyak micinnya, kan nggak sehat, bla bla bla. Nah, untuk kegalauan ini, saya udah nggak khawatir lagi nih, soalnya sudah ada mie instant sehat Lemonilo yang bebas micin aman untuk konsumsi keluarga Indonesia. Jadi sah-sah aja buat memberikan Lemonilo kepada anak-anak. Mau buktinya? Ini Rafathar aja enjoy makan mie Lemonilo.


Hihi, lucu banget kan aktifitasnya. Kalau kamu perhatikan, semua properti keluarga Rans itu pake foto/gambar yang sama bahkan kertas kadonya juga. Seru kali ya punya keluarga kompak seperti ini. Apalagi makanannya juga yang sehat seperti Lemonilo. Mahal sedikit, manfaat lebih banyak.

Nah, untukmu yang mau mencari info lebih banyak tentang hidup sehat ala Lemonilo, kamu bisa kunjungi channel Youtubenya di sini.

@andhikalady
Continue reading Makanan Solid Pertama untuk Anak umur Satu Tahun

Sunday, September 13, 2020

, , , ,

Pengalaman Menghadapi GTM Anak & Resep MPASI Andalan

Agaknya setiap Ibu pernah mengalami menghadapi fase GTM (Gerakan Tutup Mulut) pada bayinya. Kabarnya perilaku ini mulai terlihat saat si anak mulai memasuki usia 9 bulan saat dia sudah mengerti makanan yang disukai dan yang tidak. Berbeda dengan saat usia 6-7 bulan, bayi cenderung pasrah dan menerima apa saja yang kita berikan, bukan begitu Bun? 

Lalu hempasan gelombang GTM mulai beraksi. Ibu kerapkali dibikin kalang kabut.

Bayi 9 bulan cenderung sudah punya consent terhadap apa saja yang dia makan. Atau dalam istilah lain, sudah mulai menjadi picky eater. Adakalanya suka banget sama makanan ini, tapi sama sekali nggak mau makan yang itu. Berbagai jurus 'menolak' makanan juga secara ajaib sudah bermunculan. Entah itu dilepeh, disembur, menangkis, geleng-geleng, dan memalingkan muka. Padahal kita juga nggak ngajarin ya nggak?

Linam juga termasuk yang mengalami fase GTM, terutama saat giginya mulai tumbuh. Alhasil tekstur makanannya naik turun menyesuaikan selera dia. Lambat laun, saya dan Linam kelak menemukan menu andalan yang susah ia tolak. Baik saat GTM maupun tidak. Sampai sekarang, menu ini menjadi hidangan SOS kala Linam tidak mau makan.

1. Tim Telur Kentang

Ini gampang banget bikinnya. Kamu cukup siapkan telur 1 butir, kentang 1 butir, penyedap rasa alami (bawang putih), daun bawang, sedikit minyak dan air. Taraaa, jadilah tim telur nikmat kesukaan Linam. Untuk resepnya begini: 




2. Bihun Telur

Alternatif GTM lain, terutama saat Linam nggak doyan makan nasi adalah dibuatkan bihun. Bihunnya dihancurkan dulu sebelum dimasak supaya anak nggak kesulitan mengunyahnya. Ini Linam suka banget lho, malahan sering minta nambah. Supaya lebih MPASI friendly, saya masaknya ditambahkan air yang lumayan banyak supaya Linam nggak keselak.






Itulah dua resep mudah yang kerapkali saya terapkan saat Linam sedang GTM. Bahan-bahannya juga mudah dicari di sekitar kita. Prinsip saya, MPASI itu sebaiknya memang disesuaikan dengan kebiasaan makan keluarga, dengan aneka bahan makanan bergizi yang mudah & murah didapat di sekitar. Sesekali boleh lah kita berikan makanan rekreatif, asalkan pembiasaan makanan bergizi tetap dimulai dari kecil.

Selamat mencoba,

#menjadiibuterasalebihmudah

@andhikalady




 

Continue reading Pengalaman Menghadapi GTM Anak & Resep MPASI Andalan

Monday, June 15, 2020

, , , , ,

Frugal Living Selama Pandemi dan Hitungan Penghematannya (part 1)

Hidup diterpa pandemi membuat sebagian (besar) orang kehilangan pendapatannya. Ada yang hidup dari membongkar tabungan darurat, ada pula yang terpaksa berhutang. Semua orang sepakat ini situasi sulit. Tetapi demi kesehatan dan kemaslahatan umat, kita diimbau agar tetap di rumah saja sampai sekiranya situasi normal kembali. Meski ya nggak normal-normal juga tapi sama pemerintuy dipaksa 'new normal'.

Alhasil satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah dengan beradaptasi dengan new normal. Dari yang tadinya bebas kongkow-kongkow bersama teman, kini cukup via Zoom saja. Dari yang tadinya jor-joran menggunakan uang/sumber daya, kini agak dihemat lagi. Inilah topik utama tulisan ini, Frugal Living. Menurut QM FinancialFrugal living (FL) adalah kemampuan dan keinginan untuk bersikap cermat dalam penggunaan sumber konsumsi seperti makanan, waktu dan uang serta menghindari segala sesuatu yang berlebihan atau boros.


FL tidak semata-mata dilakukan karena minimnya kemampuan finansial, melainkan menggunakannya dengan penuh tanggung jawab, hemat, tanpa kesusahan amat. Bedakan dengan mengurangi makan dari sehari tiga kali menjadi sehari sekali, atau mengganti bahan makanan dengan yang lebih terjangkau dengan tetap makan tiga kali sehari. Kira-kira sudah paham kan, mana yang memang pelit, dan mana yang hidup frugal? FL tidak hanya dilakukan oleh mereka yang kesulitan ekonomi. Beberapa selebriti seperti Keira Knighley, Lady Gaga, Leonardo diCaprio, dan Ed Sheeran juga menerapkan FL lho. Apakah kamu masih mempertanyakan kekayaan mereka?

Oke, jadi selama pandemi ini saya mencoba hidup secara frugal dalam beberapa aspek. Selain untuk menghemat, juga supaya keberlangsungan roda kehidupan tetap sustain, ceilah. Apakah sebelumnya saya juga menerapkan FL? Jawabannya adalah YES, meski tidak seketat sekarang. Namanya aja pandemi force majeur, ekonomi lesu, pendapatan berkurang, plus disuruh di rumah aja. Kombinasi yang tepat sekali untuk memperketat pengeluaran uang.

Supaya mempermudah, saya pisahkan saja menjadi 4 kebutuhan pokok manusia: Sandang, Pangan, Papan, dan Pendidikan. Bagaimana mengaturnya? Yuk baca sampai habis.

Sandang

1. Invest untuk baju rumahan yang nyaman. Tunda untuk membeli baju bepergian dulu.

Karena saya punya bayi, baju-baju yang kerap dipakai di rumah adalah jenis busui-friendly. Personally, saya kurang begitu suka pakai daster, sehingga yang saya stock di rumah adalah jenis piyama kancing depan semacam ini:


Pilih motif yang tidak norak supaya enak dipandang. Ingat, yang punya mata di rumah tidak hanya Anda, wahai Ibu-ibu. Ada suami dan anak-anak yang bakal turut senang kalau ibunya tampil cantik meskipun hanya pakai baju rumahan.

Baju rumahan ini harganya sekitar separuh dari baju pergi. Bahannya juga lebih nyaman dan tipis, cukup dipakai 2-3 potong saja. Bayangkan kalau saya pergi-pergi, yang perlu dipakai adalah: dalaman, atasan, bawahan, dalaman jilbab, jilbab, kaos kaki sometimes, dst bisa mencapai 5-6 potong baju. Bayangkan, hanya dengan di rumah saja kamu bisa mengurangi jumlah cucian baju secara signifikan lho! Sedikit cucian = sedikit deterjen = sedikit sumber daya listrik = hemat.

2. Tidak menyetrika semua baju

Ini saya banget. Selain memang capek dan, ehm, malas hahahaha, juga untuk menghemat pemakaian listrik. Saya memilah baju yang untuk disetrika antara lain: handuk, seprai, baju bayi, dan baju yang mudah kusut. Kalau jenis baju kaus, dalaman, celana pendek rumahan, dll, langsung dilipat aja terus disemprot pewangi. Kadang kalau sedang mood, saya tetap press pakai setrika dalam kondisi sudah terlipat.

Tipsnya supaya baju tetap bebas kuman meski tanpa disetrika adalah dengan mengangkatnya di siang hari saat terik-teriknya. Panas matahari dapat membunuh kuman dan virus, plus bonus baju segar masih anget layaknya habis dioven. Hindari mengangkat jemuran sore hari, apalagi malam hari. Baju biasanya sudah mulai apek. Kecuali memang terpaksa.

3. No bra (almost) every day

Hahaha, I used to be bullied because my bewbs is so small. Tapi justru sekarang saya bersyukur karena saya nggak perlu memakai bra setiap hari. Well, this is not for everyone. Pakailah senyaman kalian. Tapi untuk saya pribadi yang setiap hari menyusui, memilih tidak memakai bra adalah keputusan yang saya rasa paling tepat. Hemat cucian juga kan.

Saya paham ini agak kontroversi, mengingat banyaknya artikel bahaya nggak pakai bra dalam waktu lama. Untuk menyiasatinya saya tetap pakai di hari-hari tertentu.

4. Tidak membeli sepatu/sandal bayi selama dia belum jalan

Percaya deh, sepatu buat bayi newborn itu cuma buat gaya-gayaan aja. Secara fungsional hampir nggak ada. Bayi juga kurang nyaman dipakaikan sepatu yang mengekang kakinya. Sehari-hari di rumah, Linam lebih sering nyeker sambil eksplor sekitar. Kalau bepergian misal imunisasi, saya cuma memakaikan kaus kaki. Itu sudah cukup. Buat apa pakai sepatu kalau ujung-ujungnya digendong atau didorong di stroller?


5. Mengganti sabun cair menjadi sabun mandi batangan

Memang nggak ada yang bisa menggantikan nikmatnya mandi dengan busa sabun melimpah dan wangi yang didapatkan setelahnya. Namun atas nama penghematan saya mengganti sabun cair menjadi sabun batangan. Toh semenjak Linam mulai bermain, saya semakin jarang punya mandi berkualitas. Yang dulu bisa luluran krimbat dll, sekarang harus cukup puas dengan sabunan saja. Keburu anak saya nangis nyari ibunya.


Lanjutan untuk artikel ini ada di Part 2 yaa..


Continue reading Frugal Living Selama Pandemi dan Hitungan Penghematannya (part 1)

Saturday, May 23, 2020

Hal-hal yang Bikin Kesehatan Mental Seorang Ibu Tetap Waras

Genap 8 bulan saya telah menjadi seorang Ibu. Artinya telah 8 bulan saya (dan suami) terbiasa berkutat dengan sesosok manusia lucu berikut konsekuensinya; begadang, ganti popok, bau pup, tangisan bayi, anak mengganggu saat disambi kerja, anak minta main jam dua pagi, anak sakit, mom-shaming, dan segala tetek bengeknya. Benar kata orang, memiliki anak sama dengan memikul tanggung jawab seumur hidup. Kalikan dengan banyak anak yang kamu punya.

Apalagi saya hanya tinggal bertiga dengan suami, alhasil kami yang minim pengalaman ini harus mengurus bayi berdua. Sempat tinggal bersama mertua di kampung halaman suami selama seminggu habis lahiran, namun karena pekerjaan membuat kembali ke kota dan mengurus anak berdua. Apa yang kami lakukan sebagai orang tua newbie? Tentu saja dengan cara memanfaatkan internet, tanya teman, tanya orang tua, dan segala resource tentang merawat anak. Untungnya sekarang ilmu parenting bisa didapatkan di manapun. Akun Instagram dan blog-blog yang membahas cara mengatasi popok ruam misalnya, tipsnya melimpah ruah di mana saja.

Baca juga: Menulis Rencana Persalinan



Meskipun banyak resource yang kawan yang bagi-bagi ilmu, bukan berarti selama ini saya selalu menjadi ibu yang manis, keibuan, mindfullness, dan gembira bak foto mamah-mamah muda selebgram lho. Kadangkala saya juga bisa marah-marah sendiri, uring-uringan, sedih dan juga terpukul tatkala anak saya kenapa-napa. Terlebih saat anak tidak bisa ditinggal saat saya bekerja. Ruang kerja saya memang bersebelahan dengan kamar bayi sehingga suara apapun pasti terdengar. Setiap kali mengalami hal-hal yang bikin elus dada, saya selalu berkata pada diri sendiri 'this shall too pass'. Biar bagaimanapun, saya tetap cinta anak saya layaknya seorang Ibu.

Perkara menyeimbangkan hidup setelah punya anak memang memiliki seni tersendiri. Terlebih soal kesehatan mental. Membuat waktu bermain dengan anak itu mudah, tapi memposisikan batin agar selalu ceria dan mindfullness itu butuh keikhlasan berlebih. Anak itu kan nggak butuh Ibu yang sempurna, mereka hanya butuh Ibu yang bahagia. Kamu pastinya ikutan senang kan, kalau ibumu senang? Yakin deh, kalau Ibu senang, keluarga juga makin bahagia.

Nah, apa saja yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan mental selama menjadi Ibu?

1. Support system

Jujur hal inilah yang paling penting dalam menjaga kewarasan Ibu. Support system dari orang terdekat, terutama suami sangatlah penting. Ibaratnya gini, bikin anak kan berdua, ngurusnya ya berdua dong. Istri nenenin, giliran suami yang cuci piring. Istri masak makan malam, suami yang nidurin anak. Istri nyuapin anak, suami yang cuci baju. Begitulah seharusnya dalam keluarga. Seimbang antara Bapak & Ibu. Apa jadinya kalau segala aspek domestik termasuk ngurus anak dibebankan pada istri? Yang jelas bukan tambah waras, tetapi makin stress. Ayolah, zaman now bukan situasi tepat untuk melanggengkan patriaki. Oke?

2. Turunkan standar 

Memang kzl rasanya melihat cucian kotor, rumah berantakan, piring belum dicuci, dan kaca jendela tidak mengilap. Bukan saya menyarankan itu dibiarkan saja, tetapi ada baiknya sedikit turunkan standar supaya hati lebih lapang. Misal yang tadinya semua baju disetrika, sekarang cukup beberapa saja yang krusial. Yang tadinya ngepel sehari sekali jadi dua hari sekali, dst. Momen-momen bersama anak, terutama saat mereka tidur, adalah saat tepat untuk ikut beristirahat setelah bergadang semalaman. 

3. Ngobrol dengan teman atau pasangan

Curhat berfaedah dengan teman atau pasangan itu cukup ampuh untuk mengatasi beban berlebih di kepala lho. Misal cerita kalau anak habis poop gede banget, itu bikin suasana ceria saat ngobrol. Percayalah suatu hari nanti hal-hal lucu akan menjadi kenangan manis. Apalagi soal poop yah, pasti semua mamak-mamak di atas bumi ini justru senang saat si anak lancar BAB. Tanpa sembelit, tanpa diare.

4. Quality time

Menjadi seorang Ibu, praktis jika hampir 95% waktumu akan tergerogoti dengan mengurus anak. Namun, dengerin ini, sebagai Ibu kamu wajib tetap punya me-time berkualitas yang akan merefresh jiwa pikirmu. Misal sekadar keluar beli buah, ke supermarket, atau makan sendiri di luar akan menjadi hal yang berharga bagimu. Namun kalau sedang pandemi kayak gini, coba cari me-time lainnya dengan tetap di rumah saja, misal melakukan hobi favorit. Kalau saya, misal bikin video #passthebrushchallenge. Ternyata ampuh juga lho, apalagi sambil mengobati kangen makeup-in.




5. Scroll foto-foto anak lucu

Saat sedang ingin kzl sama anak, senjata saya satu: melihat wajahnya yang polos nan lucu. Atau melihat video proses ia lahir. Percayalah ini akan menjadi hal yang akan kamu ingat selamanya. Memori tiap nafas saat mau ngeden itu nggak ada duanya.


Ngomong-ngomong soal pandemi, tips-tips di atas tetap bisa dilakukan lho. Meskipun ekskalasi tingkat stress dapat mempengaruhi kesehatan mental, kamu tetap bisa meminta pertolongan medis tanpa harus keluar rumah. Solusinya adalah Halodoc. Saya terbantu sekali dengan Halodoc, di mana saya bisa berkonsultasi kesehatan anak, membaca artikel, dan memantau update berita Corona dengan tetap di rumah aja. Pembayarannya juga mudah, diskonnya banyak. Layannya juga terpadu, selain konsultasi juga melayani pembelian obat secara online. Benar-benar kemudahan layanan kesehatan yang bisa dinikmati dari rumah. Cocok banget bikin Ibu tetap waras.



@andhikalady
Info jasa MUA makeup Jogja di @jenganten
Continue reading Hal-hal yang Bikin Kesehatan Mental Seorang Ibu Tetap Waras

Sunday, March 8, 2020

, , , , ,

Perkembangan Anak Terganggu, Terapi Solusinya

Ada seorang anak 5 tahun bernama Alika (nama samaran). Alika mempunyai problem dalam hal komunikasi di sekolah, terutama dengan teman dan gurunya. Dia tidak suka ngobrol dengan teman-temannya dan alhasil cenderung dijauhi dari pergaulan. Inisiatif Alika untuk memulai obrolan sangatlah kecil. Bahkan menurut gurunya semisal Alika kehausan, dia tidak akan minum atau ngomong meminta minum apabila tidak langsung disodorkan minuman. 

Jika terjadi kasus seperti ini, umumnya masyarakat akan bilang si anak memang dasarnya pemalu. Padahal memang Alika yang mengalami problem perilaku. Untung orang tuanya tanggap dan membawa Alika ke konsultan psikologi anak dan melakukan assesment. Benar juga, setelah diagnosis diputuskan, Alika disarankan untuk melakukan sesi Play Therapy untuk menangani perilakunya. Setelah beberapa sesi terapi, perkembangan Alika sangat signifikan. Proses menyapa dan memulai obrolan dengan teman-temannya semakin baik. Gurunya bilang Alika sekarang temannya banyak.

Jogja Medical Center

Kejadian happy ending di atas adalah salah satu kasus yang bisa ditangani oleh Jogja Medical Center (JMC), sebuah one point therapy dan fasiltas kesehatan yang bisa menangani masalah kesehatan secara komprehensif. Sekilas JMC lebih mirip taman bermain untuk anak-anak, pasalnya hampir di setiap ruangan didekorasi sedemikian rupa supaya anak-anak betah. Mulai dari mural di dinding, mainan, dan buku-buku banyak yang menarik untuk dinikmati anak-anak. Namun sebetulnya JMC juga melayani konseling dan pemeriksaan dokter umum untuk pasien dewasa juga lo. Hmm, jadi berasa anak-anak lagi kan.

Waiting room yang bikin betah

Pelayanan yang disediakan JMC antara lain: Layanan tumbuh kembang anak, Konsultasi psikologi, poli umum, dan poli gigi. Yang bikin saya tertarik adalah lengkapnya layanan terapi yang disediakan JMC. Di sana terdapat poli terapi wicara, okupasi terapi, dan terapi bermain. Khusus terapi bermain atau play therapy surprisenya adalah merupakan satu-satunya yang ada di Yogyakarta yang diampu oleh terapis Grace Melia

Grace Melia menjelaskan properti untuk play therapy
Menurut Grace, play therapy diperuntukkan kepada anak usia 4-16 tahun dengan tantangan emosi, sosial dan perilaku seperti: trauma, bullying, sulit mengatur emosi, mudah tersinggung, masalah komunikasi, kesulitan bergaul dan sebagainya. Proses terapi biasanya berlangsung selama 45 menit di sebuah ruangan yang isinya jelas berisi ratusan mainan yang bisa dimainkan tentunya dengan panduan terapis. Sesi ini berlangsung beberapa kali hingga si anak mengalami perbaikan/perkembangan sosial sesuai yang diharapkan.


Bagaimana cara mendaftarkan anak untuk ikut Play Therapy?

Well well well, meskipun namanya adalah play therapy, yang namanya terapi tetaplah terapi. Anak dan orang tua harus melakukan serangkaian tes assesment terlebih dahulu untuk mendiagnosis bahwa memang ada masalah yang harus dibantu dengan terapi. Saat tes tersebut barulah bisa diketahui masalah anak beserta terapi jenis apa yang diperlukan. Misal ternyata ada speech delay, bisa jadi si anak akan disarankan untuk terapi wicara. Atau ada gangguan behaviour, maka si anak disarankan ikut sesi play therapy

JMC tidak hanya melakukan terapi satu arah dengan anak saja, melainkan orang tuanya juga diajak berkomunikasi. Semisal terdapat 12 kali pertemuan, maka 2-3 sesi dilakukan untuk berdiskusi dengan orang tua tentang perkembangan anaknya. Bisa jadi kan, gangguan yang muncul pada anak terjadi karena kesalahan pola didik. Cuma kadang orang tua sudah merasa cukup dan baik-baik saja dengan cara mendidik anak. Di sinilah saat yang tepat untuk menurunkan ego, bahwa menjadi orang tua tidak pernah ada berhenti belajarnya. Dengan adanya proses terapi yang komprehensif, diharapkan mutual relationship antara JMC - anak - orang tua dapat bekerja sama menuntaskan masalah perkembangan pada anak.

Assesment Psikologis
Kita sebagai orang tua tentunya menginginkan anak bisa tumbuh dan berkembang dengan semestinya tanpa adanya gangguan/kelambatan. Namun tidak ada salahnya mempelajari bagaimana cara kerja terapi, khususnya untuk anak-anak. Nah, buat para orang tua yang menginginkan terapi, atau sekadar melakukan assesment kebutuhan anak, JMC bisa menjadi solusi.

Tempatnya bagus, dikelola dan ditangani oleh profesional medis yang berpengalaman. Saya bisa bilang begini karena menyaksikan sendiri suasana gedung (cozy, homy, nyaman) dan betapa profesionalnya proses dan properti terapi yang mereka sediakan.

Berikut bonus foto suasana ruangan Play Therapy.




Jl. Gondangraya No. 17, Condong Catur, Depok Sleman, Yogyakarta, 55283.
Telephone
(0274) 2830-919
Hotline Tumbuh kembang Anak dan Biro Psikologi
0811-295-4800
Hotline Poli Umum dan Poli Gigi
0811-2542-111


@andhikalady
Continue reading Perkembangan Anak Terganggu, Terapi Solusinya

Friday, February 21, 2020

, , , , , , , ,

Menulis Rencana Persalinan

Halo Netizen yang budiman,

Sejak hamil Linam pada awal tahun 2019 hingga sekarang dia berumur 4,5 bulan, saya dan keluarga banyak terbantu dengan rencana-rencana jangka pendek yang kami tulis. Setiap tahapan kehamilan saya membiasakan untuk mencatat apa saja yang diperlukan untuk dilakukan, termasuk saat merencanakan kehamilan.  Begitu pun saat persalinan, saya terbantu banget-nget-nget dengan menulis rencana persalinan. Meskipun ada beberapa yang tidak terlaksana, karena manusia bisa berencana, Tuhan lah yang menentukan.

Nb: ingin lebih cepat? Silakan langsung scroll ke bawah ada link download draft dokumen rencana persalinan.

Apa itu rencana persalinan?


First thing first, semenjak tahu hamil, saya banyak mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Termasuk salah satunya belajar dari Instagram dan website Bidan Kita. Di sana kita dibeberkan fakta-fakta dan pengetahuan tentang persalinan di mana kita sebagai Ibu harus memperkaya diri dengan banyak membaca dan latihan. Persalinan adalah hal yang tidak terulang lagi, unik, sakit, dan indah secara bersamaan. Knowledge is power. Pengetahuanmu akan banyak menolong saat persalinan.

Daan, rencana persalinan adalah hal-hal/planning yang kamu inginkan terjadi saat persalinan. Mulai dari list apa saja yang dibawa di koper, hingga bagaimana penanganan medis yang kamu harapkan. Daftar tersebut kita tulis dalam dokumen word/pdf yang nantinya dibaca bersama antara kamu, pasangan, dokter/perawat, keluarga, dan pihak-pihak terkait. Lebih lengkap lagi, di dalam dokumen rencana persalinan itu terdapat fotocopy surat-surat seperti KTP, KK, dan juga kartu asuransi. Percayalah, ini sangat membantu!

Kapan mulai menulis rencana persalinan?

Tulislah di saat hamil, bukan saat sudah kontraksi seperti ini:

Bukaan 3


... karena di saat ini kamu akan lebih fokus ke rasa sakit dan sensasi melahirkan yang datang bergelombang. Mana sempat mikirin hal lain, makan saja ogah. Melahirkan adalah proses yang menantang, mengerikan, dan indah di saat yang bersamaan. Untuk itulah pritilan lain seperti belanja baju bayi, menulis rencana persalinan, menyiapkan koper dan lain-lain dapat dilakukan jauh hari sebelumnya.

Saya sendiri menulis rencana persalinan saat memasuki trimester 3. Menurut saya itu adalah waktu yang tepat karena di TM ini kita sudah membekali banyak informasi tentang dokter berikut rumah sakit yang cocok untuk melakukan persalinan.

Apa saja yang tertulis di dokumen rencana persalinan?


Pertama yang paling penting, adalah identitas dan rekam medis pribadi Ibu. Catat ini di halaman pertama dokumen persalinan. Dengan ini, petugas medis akan lebih mudah mengidentifikasi kondisi Ibu secara lebih detail dan menentukan bagaimana treatment yang seharusnya. Setelah itu, data keluarga dan pendamping persalinan misal suami, orang tua, dan nomor telepon juga perlu dicatat. Di akhir artikel ini ada dokumen yang bisa diunduh untuk membuat rencana persalinan.

Planning berikutnya adalah lokasi persalinan. Meskipun di awal sudah menentukan akan lahiran di RS X misalnya, tetap diperlukan alternatif lokasi Y, Z dan seterusnya. Kita tidak tahu saat hari persalinan rumah sakit tujuan kita akan penuh atau tidak. Komunikasikan juga dengan pendamping persalinan tentang pilihan rumah sakit/klinik yang nyaman. Ingat, aktor utama dalam persalinan adalah Ibu dan si bayi. Bukan pendamping, bukan pula orang tua dan mertua. Ibu-lah yang paling berhak menentukan bagaimana proses persalinan yang diinginkan nantinya.

Tulis dengan detail apa saja yang diperlukan. Misal saat masuk IGD, bagaimana sebaiknya perlakukan pendamping dan keluarga. Termasuk hal kecil misal membawa makanan kecil untuk camilan saat menunggu bukaan juga perlu dicatat. Hal ini sangat membantu di saat kita sebagai Ibu sudah kalut dan fokus dengan sensasi kontraksi. Kalau ingin apa-apa, pendamping/suami diminta membaca kertas rencana persalinan saja sekaligus mengeksekusinya. Beres.


Apakah rencana persalinan selalu berjalan sesuai rencana?


Pada pengalaman saya, 80% apa yang saya tulis berjalan sesuai rencana. Sisanya tidak sesuai akibat beberapa kondisi medis. Misal di rencana persalinan saya menulis tidak ingin dilakukan episiotomi, tetapi akhirnya tetap dilakukan karena peritonium saya kurang lentur. Atau yang tadinya saya tidak ingin induksi, ujungnya tetap dilakukan karena bayi tidak lahir-lahir.




Meski tidak 100% sesuai rencana, dengan menyiapkan daftar rencana persalinan terbukti membuat momen penting ini less panic. Kepanikan yang tidak perlu semacam KTP ketinggalan atau lupa tidak menyiapakan donor hidup dapat diminimalisir. Pernah ada kawan saya yang mengabaikan rencana persalinan berujung bersalin tanpa membawa perlengkapan di dalam koper, bahkan handphone suaminya mati karena tidak membawa charger. Bagaimana menghubungi keluarga nantinya? Nah, nggak mau kan, kejadian seperti ini?


Baru lahir


Foto-foto ciamik dalam postingan ini adalah hasil jepretan fotografer persalinan @cahayasahaja
Tadinya kami nggak kepikiran untuk mendokumentasikan proses persalinan, tetapi di akhir tiba-tiba berubah pikiran dan sama sekali nggak nyesel. Apalagi di saat menonton kembali video atau foto saat kontraksi bisa bikin kembali terharu mengenang bagaimana proses kelahiran anakku. Worth of lifetime.

Download dokumen rencana persalinan


@andhikalady
@jenganten
Continue reading Menulis Rencana Persalinan