Showing posts with label frugal living. Show all posts
Showing posts with label frugal living. Show all posts

Tuesday, January 11, 2022

, , , , ,

Tutorial Belanja di Pasar Tradisional untuk First Timer

 



Belanja sayuran di supermarket memang menyenangkan. Adem, lengkap, instagrammable, nggak ribet, harga pas, dan segala rupa kenyamanan yang diberikan oleh tempat luas dan aroma wangi dari deretan rak yang disusun rapi.

Tapi sekeren-kerennya Superindo, Carrefour, atau bahkan Lotte Mart, bisa jadi kamu harus berhadapan dengan situasi belanja di pasar tradisional. Bertemu dengan mbah-mbah berbau apak yang menjajakan kunir, atau mamang tukang daging yang tancapan pisaunya cukup bikin jari kita kesemutan.

Jangan salah, meski penampilan ala kadarnya, mbah-mbah itu adalah salah satu orang terkaya di kampungnya. Mobil-mobil mereka berjejer rapi di pinggir pasar agak jauh. Penghasilan mereka pun bisa tiga sampai empat kali UMR. Jadi, sebaiknya jangan menyombongkan diri kepada para penjaja pasar karena bisa jadi uang mereka jauh lebih banyak darimu. So, mending kita simak info tutorial belanja di pasar tradisional, terutama untuk first timer.

Disclaimer: Postingan ini khusus membahas bahan makanan mentah yang tidak awet, misal sayuran, daging, seafood, dan protein nabati. Kalau yang awet-awet seperti beras minyak telur dll aku anggap sudah pada ngerti.

 

1. Belanja Sayuran

Belanja sayuran di pasar adalah pilihan yang bagus, pasalnya kamu bisa dapat sayuran yang sangat fresh baru saja dipetik dari kebon. Minimal sehari sebelumnya. Malah bisa juga lho, kamu dapatin harga yang lebih murah. Umumnya sayuran di pasar itu digelar dan tidak dibungkus pack seperti di supermarket. Tapi jangan khawatir, kamu bisa menakar dan mengatur sendiri mau beli seberapa.

Belanja sayur di pasar like a PRO:

- sambil antre, sambil mengumpulkan sayur yang mau dibeli
- tidak menyerobot saat penjual sayur sedang menghitung penjualan orang lain
- meminta setengah dari pack sayuran (misal minta setengah pack tauge)
- membawa wadah sendiri untuk tempat bawang brambang
 
No for:

- menyerobot antrean orang
- mencampur/mengobrak abrik sayuran yang sudah digelar
 
Satuan ikat: bayam, kangkung, sawi, kenikir, kacang panjang, kemangi, daun bawang, seledri, daun singkong, daun pepaya
Satuan kiloan: jipan, tomat, wortel, buncis, terong, gambas, timun, jagung, kentang. Meski kiloan, kamu bisa mengambil sebesar kebutuhan.
Satuan ons: bawang, brambang, cabai
Satuan butiran/satuan: kol, petai, jagung, bawang bombay,
Satuan pack: tauge, pepaya muda iris, nangka muda iris, santan

Jadi, kalau mau bilang ke penjualnya kira-kira begini:
"Bu, mau tomat sekilo" >> yes
"Bu, mau jipan dua butir" >> ini juga yes
"Bu, mau bombay satu ons" >> nah ini agak susah milahnya. Iya kalo pas dua butir satu ons, kalau tidak?
 

2. Belanja daging & ikan


Daging, ayam, dan ikan di pasar umumnya masih betul-betul segar. Mereka saban hari menyuplai restoran dan warung bakso yang ordernya bisa kwintalan. So, nggak usah khawatir daging yang kamu beli adalah daging kemarin. 

Biasanya di pasar tradisional itu berbeda antara penjual daging, penjual daging ayam, dan penjual ikan. Kamu bisa prioritaskan kebutuhanmu dengan mendatangi mana yang kamu butuhkan. 

Urutan daging termahal hingga termurah: sapi > kambing > ayam kampung > ayam negri
Pritilan bagian sapi: iga, ati, paru, otak, tulang muda, koyor, kikil, daging giling, bakso
Pritilan bagian ayam: kepala, ceker, sayap, rempelo ati, usus, brutu
Hasil laut: tuna, layur, udang, cumi, teri
Ikan darat: lele, nila, gurami, sidat, belut, kutuk, dll tergantung produksi lokal

Belanja daging di pasar like a PRO:

- Bisa beli satuan rupiah. Misal beli daging sapi 50 ribu
- Minta daging ayam sekalian dipotong-potong supaya nggak perlu motong lagi di rumah
- Tanya harga per kilo dulu, karena harga daging dan ayam berubah-ubah
- Minta ikannya sekalian digaris-garis atau dipotong-potong
- Minta dada ayam/ikan sekalian difillet


3. Belanja protein nabati


Penjual tahu & tempe biasanya satu kios. Supaya praktis, beli saja langsung di situ. Kadang di penjual yang sama, mereka jual juga tempe gembus (ampas tahu yang dikasih ragi tempe), kulit lumpia, dan tahu bakso.

Jenis tempe: tempe bungkus daun, bungkus plastik, tempe garit, tempe mendoan, oncom,
Kacang tanah, kacang hijau dan aneka kacang bisa dibeli di kios palawija yang juga menjual beras.

Belanja protein nabati di pasar like a PRO:

- Beli tempe ukuran besar karena lebih murah dan banyak
- Beli tahu kopong untuk bikin tahu isi
- Beli tempe garit satuan rupiah, misal lima ribu


4. Belanja bahan pokok non beras


Umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong, dan sagu juga bisa ditemukan di pasar. Umumnya dalam satuan kiloan. Harganya biasanya murah banget, misal singkong 6 ribu per kg, ubi jalar 8 ribu, dll. Selain itu juga kadang ada waloh, sukun, jantung pisang, bit, talas, inthik, dll.

Aneka umbi-umbi dan bahan makanan 'ndeso' ada di pasar tradisional.


5. Belanja bumbu


Bumbu basic biasanya tersedia dalam paketan seharga 2-4ribuan. Isinya ada daun salam, daun jeruk, kunyit, kencur, jahe, sereh, lengkuas. Tapi kamu juga bisa membelinya satuan. Bumbu pawon seperti ini lebih murah kalau beli banyak. Apalagi disimpan di freezer nicaya makin awet.

Yang harganya murah: daun-daunan, kunyit, sereh, jahe emprit
Yang agak mahal: jahe merah, lengkuas, kencur, temulawak



Tips Belanja di Pasar Tradisional like a PRO:

1. Berbusana seperlunya, tidak perlu mewah-mewah. Takutnya kalau outfit macam ke mall bisa-bisa dikepruk harga sama penjual.
2. Pakai masker double. Pandemi tidak pandemi pakai masker.
3. Kenali pedagang, jadiin langganan. Siapa tahu dapat diskon.
4. Bawa kantung belanja sendiri.
5. Pakai sunblock jangan lupa.
6. Hafalkan posisi masing-masing kios.
7. Boleh bawa kotak tupperware untuk tempat daging.
8. Jadwalkan ke pasar seminggu sekali biar nggak ribet bolak balik.
9. Rolling sayuran baru setiap minggu supaya tidak bosan.
10. Beli 'pajak anak' setiap ke pasar.
11. Foodprep dan rencanakan menu setiap minggu supaya tidak bingung mau beli apa.
12. Bawa kantung belanja tambahan akan sangat-sangat-sangat membantu.
13. Cuci tangan sebelum dan saat keluar dari pasar.
14. Pilih lokasi penjual yang ada di tempat terbuka untuk meminimalisir kontak udara di tempat pengap.



Belanja di pasar tradisional artinya kamu ikut membangun ekonomi wilayah setempat. Ada pedagang-pedagang yang sejahtera karena upayamu berbelanja di pasar mereka.


Selamat mencoba,

@andhikalady


Continue reading Tutorial Belanja di Pasar Tradisional untuk First Timer

Wednesday, November 10, 2021

, ,

Pengalaman Frugal Living dengan Kebiasan Masak & Foodprep Sendiri

Ada sebuah parameter untuk melihat tingkat kemajuan sebuah negara, yaitu rasio antara belanja makanan dengan pendapatan. Kalo istilah englesh-nya Food Expenditure Ratio. Makin maju negara, makin kecil rasio belanja makanan terhadap pendapatan rata-rata. Sebaliknya, makin miskin negara, makin besar rasio belanja makanan terhadap pendapatan.

Dengan kata lain, semakin miskin negara, porsi gajinya sebagian besar digunakan untuk membeli makanan melulu.

Ini 7 negara yang paling sedikit rasionya. Amerika contohnya. Mereka hanya membelanjakan 6,4% dari penghasilan mereka untuk belanja makanan. Singapore di bawahnya, diikuti dengan 6 negara maju lainnya.



Sementara ini 9 negara terbawah dengan rasio terbesar. Nigeria bahkan menghabiskan 56% pendapatannya hanya untuk beli makan. Ibaratnya misal punya gaji 3 juta, 1,8 jutanya sendiri hanya untuk makan. Warga Nigeria hanya punya 44% sisa penghasilan untuk hal lain (tempat tinggal, sandang, pendidikan).



Lalu rasio Food Expenditure Indonesia berapa? 31%. Jadi, misal ada orang Indonesia punya gaji 3juta, rata-rata mereka menghabiskan 1juta hanya untuk beli makan. Gaji 5 juta, rata2 dihabiskan 1,5juta untuk makan.

Ini rata-rata. Meskipun agak susah membayangkan bisa makan sebulan hanya dengan 1juta. Mungkin yang penghasilannya 3jutaan, uang untuk belanja makanan lebih dari 1juta.

Nah kaitannya sama topik Andhikalady apa tuh? Kok bahas rasio2 belanja makanan segala?

Ini topiknya bakal aku giring ke arah frugal living. Sekarang coba cek penghasilan masing2, dan bandingkan dengan expenses yg kamu belanjakan untuk beli makanan. Makanan lho, kebutuhan utama hidup manusia yang harus dibeli dengan uang.

Lebih atau kurang dari 31%?

Jika kurang dari itu, selamat. Kamu mendekati life style negara2 yang lebih maju. Bisa jadi hidupmu lebih sejahtera dari rata2. Mungkin kamu pintar menabung, pintar berhemat, hidup frugal, dan sejenis itu mirip2 lah.

Tapii jika kalau lebih dari 31%, hmmm, this is not very good. Katakanlah kamu punya penghasilan tinggi misal dua digit. Tapi yang kamu belanjakan untuk makanan lebih dari sepertiganya, sama aja Malihh. Kamu menyia2akan potensi besar penghasilan yang bisa digunakan untuk hal lain. Misal pendidikan dan investasi.

Well, aku paham kalau sebagian orang punya prinsip "hidup untuk makan". Makan kalau nggak bermewah2 pantang. Telur itu cuma condiment bukan lauk. Makanan itu jadi daging dan otak jadi harus mewah, endesbrey, endesbrey.

Tapii, salah satu hal yang aku sesali adalah; duluu di saat aku single dan berpenghasilan, aku terlalu banyak nge-treat diri sendiri dengan makanan yang nilai gizinya tidak lebih unggul dari masakan buatan rumahan. Dikit-dikit jajan. 3x sehari jajan. Padahal ibuku udah ngasih rice cooker buat masak nasi sendiri di kost, tapi aku lebih memilih makan di luar.

Duh, sekarang aku ngerti betapa kecewanya ibuku kalau anaknya boros. Hahahaha.

Coba aja aku sejak dulu menerapkan konsep Food Expenditure, mungkin sekarang udah punya kost-kostan.

Sekarang keadaan berubah. Sebagai istri & ibu, aku bertanggungjawab dengan gizi dan kelezatan makanan di rumah. Aku mulai belajar masak, belajar belanja dengan mindfull. Belajar meramu makanan booster BB yang cocok dan enak untuk Linam, serta yang nggak bikin tekanan darah Pak Rangga makin naik. Termasuk membandingkan toko dengan harga termurah, dan juga bahan terbaik. Apa hasilnya?

Expenses yang dulu aku pakai untuk makan aku seorang ternyata cukup untuk memberi makan satu keluarga 3 orang, aku, suami & anak.

Ibarat misal dalam sebulan buat aku makan sendiri 2 juta (dengan jajan). Ternyata buat makan 3 orang juga habis 2 juta. Gizinya sama, enaknya sama, tapi jumlah perut yang kenyang lebih banyak. All you need to do is: masak sendiri.

Ini sukses menurunkan rasio Food Expenditure di keluarga kami. Biaya untuk makan bisa ditekan, sementara pendapatan yang lain dapat digunakan untuk pos lain. Hati juga lebih adem dan tenang karena dana darurat dan beberapa rancangan cita-cita sudah cukup aman.

Aku be lyke, what, ini mah ilmu PKK banget tapi manfaatnya benar-benar terasa. Tinggal penerapannya, apakah kalau penghasilan bertambah, Food Expenditure akan tetap, turun, atau celakanya malah nambah karena kalap jajan makanan2 mevvah?

Kamu nggak perlu meniru 100% langkah yang aku ambil, tapi coba deh pikir lagi. Misal kamu merasa boros banget di jajan, tidakkah lebih mindfull dan cermat apabila kamu mempertimbangkan untuk save a lot of money by cook and prepare the food by yourself?

Have a nice overthink night.

Andhikalady.

Continue reading Pengalaman Frugal Living dengan Kebiasan Masak & Foodprep Sendiri

Thursday, June 18, 2020

, , ,

Frugal Living Selama Pandemi dan Hitungan Penghematannya (part 2)

Setelah kelar di artikel sebelumnya tentang Frugal Living, di sini lanjutannya. Sebelumnya saya sudah membahas trik hidup frugal dari segi sandang, alias pakaian. Dan di sini akan dibahas lebih lanjut bagaimana trik penghematan dari sisi pangan, papan, pendidikan, sekaligus hitungannya.

Baca sampai habis yaa..

Pangan

Baik pandemi atau tidak, pasti semua sepakat bahwa faktor pangan mengambil porsi besar dalam pengeluaran sehari-hari. Bagaimana tidak, dalam sehari setidaknya makan 3x, belum minuman, belum jajan, dan susu anak kalau dia minum susu. Kita juga pasti sepakat, bahwa dalam urusan apapun, makan tak boleh ketinggalan. Gizi anak juga tidak boleh terlewat apalagi di 1000 hari pertama kehidupan.

1. Masak setiap hari

Pandemi ini seakan membuat saya 'terpaksa' harus masak setiap hari di rumah. Bagaimana tidak, banyak restoran yang tutup dan mau keluar rumah kok was-was terpapar virus. Berkat ini, saya jadi bisa menguasai berbagai macam jenis masakan. Dari yang tadinya jiper dengan sambel tumpang, sekarang saya bisa memasaknya. Puncaknya adalah saat perayaan Idul Fitri kemarin, saya berhasil memasak satu set opor ayam + sambal goreng ati untuk dimakan bertiga di rumah. Mungkin buat orang-orang eh apaan sih cuma masak opor doang. Tapi percayalah, buat saya ini adalah pencapaian luar biasa. 

FYI sebelum punya anak, saya orangnya lebih suka jajan ketimbang masak sendiri. Gas 12kg bisa baru habis setelah 3-4 bulan. Sekarang? 1,5 bulan aja udah cengep-cengep. Mungkin di sinilah hikmahnya, saya jadi makin kreatif mengolah apa saja yang ada di kulkas. Cuma ada wortel dan kol, ziing, bisa berubah menjadi bakwan.


2. Menurunkan kualitas minyak goreng

Hal sesederhana minyak goreng yang selisih cuma seribu-dua ribu ternyata pengaruh banget lho. Biasanya saya pakai minyak merk B yang spesial, sekarang mesti legowo dengan merk S, F, F, ataupun H. Kalau dipikir-pikir rasanya sama aja kok, yang penting penggunaannya bijak ya. Jangan dipakai berkali-kali. Apalagi masak untuk bayi, jangan yaa.


3. Beli satu peti telur alih-alih beli kiloan

Ini berguna jika belinya rame-rame. Caranya adalah cari supplier telur dari pusatnya, beli 1 peti isi 15kg, lalu ambil secukupnya misal 2-3 kg, sisanya lalu dijual kembali.


4. Mengganti gas 12kg dengan gas melon

Karena kebetulan punya dua jenis gas, selama pandemi ini saya agaknya lebih berminat menggunakan gas melon. Itu lho, gas warna hijau yang tiga kiloan. Karena punya anak, penggunaan gas di rumah saya makin menggila: masak tiga kali, bikin MPASI anak, bikin air panas buat mandi anak. Akibatnya penggunaan gas melon dirasa lebih masuk akal meski harus mengisi bolak-balik. Pengehematan yang dilakukan? Hampir 100%, sebab harga gas 12kg (per kilo) adalah dua kali lipat harga per kilo gas melon.

5. Bayi minum ASI

Susu anak adalah salah satu komponen perawatan bayi yang paling boros. Apalagi jenis susu merk premium yang dibandrol dengan harga mahal. Padahal untuk ibu yang ASInya keluar, dengan ASI saja sudah cukup kok sebetulnya. Tentu saja ini perlu dikonsultasikan dengan dokter anak masing-masing.

Kalau saya sendiri alhamdulillah bersyukur karena ASI saya lancar sehingga bayi tidak perlu tambahan susu formula.


6. Bikin kue sendiri di rumah

Sebelum saya hamil, saya orangnya nggak begitu doyan ngemil. Kalaupun ngemil paling karena dikasih orang atau sedang benar-benar ingin. Berbeda dengan sekarang saat saya menyusui. Kayaknya ngemil itu kebutuhan pokok. Setiap saat camilan harus siap tersedia. Lalu karena di rumah saja, saya pun memutar otak bagaimana membuat camilan yang enak dan mudah dibuat. Maka jadilah saya mencoba bikin donat, brownies, kue klepon, puding, dan aneka jajanan lain bermodal tepung-tepungan.

7. Nyetok sayur lebih banyak supaya tidak sering keluar rumah

Saya menjadwalkan untuk nyetok kulkas seminggu sekali. Dalam sekali belanja, saya membuat list yang terdiri dari bahan untuk rencana menu seminggu. Kalau nggak punya rencana masak gimana? No problem, beli saja bahan makanan ini:

Harus selalu ada di dapur: beras, telur, terigu, tapioka, garam, bawang merah, bawang putih, bawang bombay, bumbu penyedap, kecap, minyak goreng, terasi, gula jawa, gula pasir, teh, kopi.

Belanja seminggu sekali:
- 2-4 jenis protein hewani (ayam, daging, ikan, seafood)
- 2-4 jenis protein nabati (tempe, tahu, kacang-kacangan)
- 2-4 jenis buah-buahan (pepaya, semangka, apel, jeruk, dll)
- bumbu dapur tidak awet (daun salam, laos, jahe, kunyit, daun jeruk, pandan)
- cabai rawit, hijau, merah
- santan kelapa
- 5-7 jenis sayur (tomat, timun, kangkung, selada, kacang panjang, terung, dll)

Dengan belanja itu semua, insyaAllah kamu nggak akan kebingungan mau masak apa selama seminggu. Sekali belanja memang agak mahal sekitar 200-300 ribuan, tetapi kalau bisa dipakai masak seminggu artinya sehari kita cuma ngabisin uang kurang dari 50 ribu untuk makan sekeluarga. Murah banget kan hitungannya? Gizinya sudah lengkap pula.

Nah, supaya nggak perlu keluar rumah, kamu bisa juga memanfaatkan layanan belanja online. Misalnya di @agrice.id untuk kamu yang berlokasi di Yogyakarta. Pelbagai sayuran, buah, aneka lauk bisa kamu pesan di sini tentunya harga masuk akal dan promo yang menarik. Semua belanjaan kamu akan diantar sampai rumah. Kamu tinggal klik pesanan kamu di link ini, lalu melakukan pembayaran melalui OVO/transfer/minimarket kemudian belanjaan akan datang. Mudah sekali bukan?

8. Food prep


Well, food prep adalah koentji supaya bahan makanan yang dibeli bisa awet di kulkas. Mungkin agak repot jika harus mengolah, mencuci, memotong-motong dll. Tetapi ini sangat bisa menyingkat waktu saat akan memasak terburu-buru. Istilahnya tinggal plung saja. Memang butuh waktu agak lama sekitar 2-3 jam untuk menyiapkan semua sayuran. Saya menyiasatinya dengan melakukannya saat weekend atau saat tidak sibuk. Modalnya adalah beberapa kotak sejenis tupperware atau thinwall, waktu, dan tentunya kesabaran.

Papan

Sandang sudah, pangan juga sudah. Sekarang mari bahas soal papan dan segala urusan rumahan. Biasanya yang memakan biaya lebih banyak adalah listrik dan internet. Tetapi ada beberapa trik penghematan yang bisa dilakukan, antara lain:

1. Hindari pemakaian listrik berdaya besar di sore menjelang malam

Untuk melakukan kegiatan mencuci pakai mesin, menanak nasi, dan menyetrika sebaiknya dilakukan di luar prime time pemakaian listrik (17.00-21.00). Biasanya saya melakukan itu saat dini hari. Banyak yang bilang dengan trik ini pemakaian listrik jadi lebih hemat. Namun karena saat pandemi lebih banyak di rumah saja, saya merasa tidak ada perbedaan yang kentara. Banyak sih yang mengeluh listrik tiba-tiba naik tanpa kejelasan, tetapi mengupayakan penghematan tak ada salahnya kan?

2. Naik motor instead naik mobil

Meski jarang keluar, saya sebisa mungkin naik motor saja karena lebih hemat di bensin. Kecuali untuk urusan penting misal harus imunisasi ke bidan, atau perjalanan jauh ke luar kota. Kalau cuma pergi ke minimarket depan rumah sih cukup jalan kaki atau naik motor saja sudah.

Pendidikan & Keagamaan

Akibat Covid 19, kegiatan berkumpul ditiadakan sama sekali. Termasuk ibadah dan gathering. Saya yang biasanya sering ketemu teman-teman di luar untuk sekadar makan-makan pun harus menyesuaikan. Saya menyiasatinya dengan banyak mencari info kulwap di sosmed, ataupun live IG dari ahlinya tentang berbagai ilmu yang relevan. Misal materi speech delay, MPASI, dan aneka ilmu yang membuat kehidupan seorang ibu menjadi lebih mudah.

Hitungan


Sampailah di saat yang ditunggu-tunggu yaitu berapa hitungan penghematan yang bisa dilakukan dengan hidup secara frugal.



Di atas masih hitungan kasar, pun tidak semua pos pengeluaran saya tulis. Misal listrik saya asumsikan konsumsi frugal no frugal sama saja. Pulsa pun demikian, saya anggap fix cost setiap bulan sehingga tidak ada selisih yang cukup berarti. Kerasa banget ya, penghematannya bisa menekan setengah lebih. Coba kalau hidup frugal semacam ini bisa bertahan terus saat income kembali normal, mungkin saya lekas punya rumah dan studio milik sendiri. Aamiin.


Agrice New Normal Groceries.
Whatsapp = wa.me/6285740394039
Pricelist = toko.ly/agrice
Dapatkan diskon free ongkir dengan menyebutkan Jenganten.com saat melakukan order.

Andhika Lady
Continue reading Frugal Living Selama Pandemi dan Hitungan Penghematannya (part 2)

Monday, June 15, 2020

, , , , ,

Frugal Living Selama Pandemi dan Hitungan Penghematannya (part 1)

Hidup diterpa pandemi membuat sebagian (besar) orang kehilangan pendapatannya. Ada yang hidup dari membongkar tabungan darurat, ada pula yang terpaksa berhutang. Semua orang sepakat ini situasi sulit. Tetapi demi kesehatan dan kemaslahatan umat, kita diimbau agar tetap di rumah saja sampai sekiranya situasi normal kembali. Meski ya nggak normal-normal juga tapi sama pemerintuy dipaksa 'new normal'.

Alhasil satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah dengan beradaptasi dengan new normal. Dari yang tadinya bebas kongkow-kongkow bersama teman, kini cukup via Zoom saja. Dari yang tadinya jor-joran menggunakan uang/sumber daya, kini agak dihemat lagi. Inilah topik utama tulisan ini, Frugal Living. Menurut QM FinancialFrugal living (FL) adalah kemampuan dan keinginan untuk bersikap cermat dalam penggunaan sumber konsumsi seperti makanan, waktu dan uang serta menghindari segala sesuatu yang berlebihan atau boros.


FL tidak semata-mata dilakukan karena minimnya kemampuan finansial, melainkan menggunakannya dengan penuh tanggung jawab, hemat, tanpa kesusahan amat. Bedakan dengan mengurangi makan dari sehari tiga kali menjadi sehari sekali, atau mengganti bahan makanan dengan yang lebih terjangkau dengan tetap makan tiga kali sehari. Kira-kira sudah paham kan, mana yang memang pelit, dan mana yang hidup frugal? FL tidak hanya dilakukan oleh mereka yang kesulitan ekonomi. Beberapa selebriti seperti Keira Knighley, Lady Gaga, Leonardo diCaprio, dan Ed Sheeran juga menerapkan FL lho. Apakah kamu masih mempertanyakan kekayaan mereka?

Oke, jadi selama pandemi ini saya mencoba hidup secara frugal dalam beberapa aspek. Selain untuk menghemat, juga supaya keberlangsungan roda kehidupan tetap sustain, ceilah. Apakah sebelumnya saya juga menerapkan FL? Jawabannya adalah YES, meski tidak seketat sekarang. Namanya aja pandemi force majeur, ekonomi lesu, pendapatan berkurang, plus disuruh di rumah aja. Kombinasi yang tepat sekali untuk memperketat pengeluaran uang.

Supaya mempermudah, saya pisahkan saja menjadi 4 kebutuhan pokok manusia: Sandang, Pangan, Papan, dan Pendidikan. Bagaimana mengaturnya? Yuk baca sampai habis.

Sandang

1. Invest untuk baju rumahan yang nyaman. Tunda untuk membeli baju bepergian dulu.

Karena saya punya bayi, baju-baju yang kerap dipakai di rumah adalah jenis busui-friendly. Personally, saya kurang begitu suka pakai daster, sehingga yang saya stock di rumah adalah jenis piyama kancing depan semacam ini:


Pilih motif yang tidak norak supaya enak dipandang. Ingat, yang punya mata di rumah tidak hanya Anda, wahai Ibu-ibu. Ada suami dan anak-anak yang bakal turut senang kalau ibunya tampil cantik meskipun hanya pakai baju rumahan.

Baju rumahan ini harganya sekitar separuh dari baju pergi. Bahannya juga lebih nyaman dan tipis, cukup dipakai 2-3 potong saja. Bayangkan kalau saya pergi-pergi, yang perlu dipakai adalah: dalaman, atasan, bawahan, dalaman jilbab, jilbab, kaos kaki sometimes, dst bisa mencapai 5-6 potong baju. Bayangkan, hanya dengan di rumah saja kamu bisa mengurangi jumlah cucian baju secara signifikan lho! Sedikit cucian = sedikit deterjen = sedikit sumber daya listrik = hemat.

2. Tidak menyetrika semua baju

Ini saya banget. Selain memang capek dan, ehm, malas hahahaha, juga untuk menghemat pemakaian listrik. Saya memilah baju yang untuk disetrika antara lain: handuk, seprai, baju bayi, dan baju yang mudah kusut. Kalau jenis baju kaus, dalaman, celana pendek rumahan, dll, langsung dilipat aja terus disemprot pewangi. Kadang kalau sedang mood, saya tetap press pakai setrika dalam kondisi sudah terlipat.

Tipsnya supaya baju tetap bebas kuman meski tanpa disetrika adalah dengan mengangkatnya di siang hari saat terik-teriknya. Panas matahari dapat membunuh kuman dan virus, plus bonus baju segar masih anget layaknya habis dioven. Hindari mengangkat jemuran sore hari, apalagi malam hari. Baju biasanya sudah mulai apek. Kecuali memang terpaksa.

3. No bra (almost) every day

Hahaha, I used to be bullied because my bewbs is so small. Tapi justru sekarang saya bersyukur karena saya nggak perlu memakai bra setiap hari. Well, this is not for everyone. Pakailah senyaman kalian. Tapi untuk saya pribadi yang setiap hari menyusui, memilih tidak memakai bra adalah keputusan yang saya rasa paling tepat. Hemat cucian juga kan.

Saya paham ini agak kontroversi, mengingat banyaknya artikel bahaya nggak pakai bra dalam waktu lama. Untuk menyiasatinya saya tetap pakai di hari-hari tertentu.

4. Tidak membeli sepatu/sandal bayi selama dia belum jalan

Percaya deh, sepatu buat bayi newborn itu cuma buat gaya-gayaan aja. Secara fungsional hampir nggak ada. Bayi juga kurang nyaman dipakaikan sepatu yang mengekang kakinya. Sehari-hari di rumah, Linam lebih sering nyeker sambil eksplor sekitar. Kalau bepergian misal imunisasi, saya cuma memakaikan kaus kaki. Itu sudah cukup. Buat apa pakai sepatu kalau ujung-ujungnya digendong atau didorong di stroller?


5. Mengganti sabun cair menjadi sabun mandi batangan

Memang nggak ada yang bisa menggantikan nikmatnya mandi dengan busa sabun melimpah dan wangi yang didapatkan setelahnya. Namun atas nama penghematan saya mengganti sabun cair menjadi sabun batangan. Toh semenjak Linam mulai bermain, saya semakin jarang punya mandi berkualitas. Yang dulu bisa luluran krimbat dll, sekarang harus cukup puas dengan sabunan saja. Keburu anak saya nangis nyari ibunya.


Lanjutan untuk artikel ini ada di Part 2 yaa..


Continue reading Frugal Living Selama Pandemi dan Hitungan Penghematannya (part 1)